Sabtu, 04 Januari 2014

Mantra Pengobatan



Jenis mantra ini khusus digunakan untuk menyembuhkan penyakit.

Mantra Sambur Sampuli :

Mismillahirrohmanirrohim
Baringgang baringganggung
Ambil arakit
Allmundhi mantuk kapucuknya
Jangan angkau mahaurinya
Jangan angkau masuk kapusatnya
Jangan angkau masuk kaurinya
Kalau angkau tak kaluar
Maka manjadi sogara hijau
Barkat Lailahailallah Muhammadurrasulullah

Mantra Sawan :

Bismillahirrohmanirrohim
Tarbang burung
Mulang mansawan
Hinggap kayu mali-mali
Aku tahu asal angkau
Mulang mansawan
Asal uri lawan tambuni
Barkat Lailahailallah Muhammadurrasulillah

Mantra Tajani :

Bismillahirrohmanirrohim
Hantu manjual kupit
Aku manjual kapat
Hantu maayukit
Aku manawar
Barakat Lailahailallah Muhammadurrasulullah

Mantra Palungsur Baranak (melahirkan)

Bismillahirrohmanirrohim
Nun kalamun walayar turun
Hilang aritannya balungsur inya turun
Barakat Lailahailallah Muhammadurrasulullah

Bismillahirrohmanirrohim
Bungkalang bungkaling
Tampurung bulu-bulu
Takalang tapaling
Kaluar tadahulu
Barakat Lailahailallah Muhammadurrasululah

sumber : http://mantraurangbanjar.blogspot.com/

Mantra Banjar

Mantra adalah ujar-ujar yang merupakan sumber kekuatan spritual leluhur pusaka Banjar ( Kalimantan ). Pada hakikatnya mantra adalah suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa yang disampaikan dengan ujaran yang khas dan dengan gaya bahasa yang khas pula dengan keyakinan yang penuh bagi penggunanya.

Namun pada zaman sekarang ini mantra mulai langka. Andai pun ada, pemilik mantra merahasiakan keberadaan mantra dan cuma segelintir orang yang memiliki mantra itu pun hanya merupakan warisan kepada keluarga dan orang – orang tertentu. Ini pun tergantung keyakinan pemiliknya.

Bagaimana kalau ditinjau menurut hadis Rasulullah SAW ?

Di zaman sebelum Islam, Umar bin Khatab adalah seorang yang pandai menggunakan suwuk ( mantra untuk pengobatan ). Ketika Umar masuk Islam hal tersebut dia tanyakan kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi meminta Umar untuk memperdengarkan mantra tersebut. Setelah mendengar, Nabi memberikan batasan sebagai berikut : Selama tidak syirik, silakan dipakai mantra tersebut.

Setelah masuknya agama Islam di Kalimantan, mantra mengalami perbaikan yakni sebelum membaca mantra didahului dengan ucapan “ bismillah “ dan di akhiri dengan “ berkat Lailahailallah Muhammadurrasulullah “

Ada beberapa jenis mantra menurut penggunaannya, yakni :

Mantra untuk pengobatan, matra kedigjayaan, mantra pekasih, mantra pagar diri dan mantra untuk mencelakai orang lain.

Demikianlah sekilas tentang Mantra. Semoga tulisan yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi kita semua. *** Arsyad Indradi ***

Minggu, 29 Desember 2013

Balanting Paring Maarak Panganten

Wisata Balanting Paring (Bamboo Rafting) dan Lomba Lanting Hias Maarak Panganten Tahun 2013. Start : Loksado - Pagar Haur (Sabtu, 28 Desember 2013). Finish : Sungai Amandit (Lapangan Lambung Mangkurat, Kandangan) Minggu, 29 Desember 2013.


Kamis, 19 Desember 2013

CAGAR ALAM GUNUNG KANTAWAN

Cagar alam Gunung Kantawan terletak di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Di kawasan seluas sekitar 245 ha ini, hiduplah aneka jenis flora dan fauna. Cagar Alam Gunung Kantawan menjadi kawasan konservasi untuk melindungi anggrek hutan, owa-owa (hyolobatus muelarri), bekantan, dan beberapa jenis burung.

Gunung Kantawan lebih dikenal sebagai lambang dari kawasan Loksado karena letaknya strategis dan dapat dilihat dari berbagai penjuru. Gunung ini berupa gunung batu yang ditumbuhi pepohonan di sekelilingnya. Letak kawasan ini sekitar 28 kilometer dari kota Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Untuk mencapainya hnaya dapat dilakukan dengan berjalan kaki melewati Desa Lumpangi, Muara Hatip, dan Datar Belimbing / Hulu Banyu.

Kawasan Loksado memiliki hutan primer ditumbuhi pepohonan dan kayu-kayu yang beraneka ragam. Jenis pohon yang tumbuh di wilayah ini seperti meranti, sungkai, ulin, karet, kayu manis, jeis pohon buah-buahan serta aneka jenis anggrek. Di dalam hutan juga hidup berbgai satwa seperti : kijang, kancil, macan, beruang, aneka jenis kera, stwa melata dan jenis burung sepeerti : raja udang, enggang, dan ayam hutan. Disana hidup pula kupui-kupu dengan aneka warna yang menawan.***
 
 
sumber ; http://sketsahss212.blogspot.com/2013/11/ktah-5.html

KISAH LOKSADO




Dahulu Jaman Kerajaan Banjar ada beberapa Datu, yang tinggal daerah tarbalimbing,  mereka adalah sekumpulan orang orang sangat disegani dan sakti di daerah tersebut dan pada jaman Raja-Raja  saat itu mereka sering melakukan Perampokan. Karena kesaktiannya tidak ada yang bisa menangkap para Datu tersebut, akhirnya Raja Banjar berumanat siapa yang bisa mengalahkan Datu tersebut di beri hadiah, dan konon di daerah tersebut  ada yang bernama Datu Kilat yang menyanggupinya bisa mengalahkan mereka, akhirnya terjadilah perkelahian Datu Kilat dengan  Datu Maangat, Datu Mabamban dan Datu mambulu, akhirnya Para Datu tersebut dapat dikalahkan oleh datu Kilat, pada saat ditangkap dan diikat, tidak ada satu senjata, mandau yang melukai kulit Datu Maangat, Datu Mabamban dan Datu mambulu, akhirnya datu mambulu mengatakan bahwa mereka hanya bisa dibunuh dengan pisau yang dibawanya namun sebelum meninggal datu tersebut bersumpah bahwa "samuga sidin nini bahatara mandangarakan sumpahku anak cucuku dada ada nu jadi parampuk harus barada di pamarintahan amun ada nang jadi parampuk jadi paramuk sasakali" dan memang sulit dipercaya tapi sumpah tersebut sampai sekarang masih berlaku . 

Anak Datu Malamun beliau mengetahui orang tuanya mati melarikan diri kedaerah Sampanahan yg sekarang menjadi wilayah kab.Banjar dan beliau bertapa disana, dan entah kenapa akhir dari pertapaannya lalu beliau dipanggil oleh Raja pada saat itu dan diangkat menjadi Tumenggung kepala adat di daerah pegunungan Meratus, lalu beliau Datu  Malamun berangkat ke pahuluan sungai hamandit yakni Haratai yang sekarang terkenal dengan objek wisata air terjunnya. lalu beliau  memiliki 5 (lima) orang putra yang bernama Datu Raya, Datu Tuuk, Datu Bungsu dan 2 saudara lainnya yang tidk diketahui keberadaannya lalu merekalah  yang membentuk "balai" bernama" TARLIANG" dan pada saat itu temenggungya adalah Temenggung Malamun.

Pada waktu itu "Balai tarliang" menjadi pusat adat yang terkenal di hulu sungai Hamandit dikarenakan beliau yang menjadi tumenggung yang disegani oleh masyarakat adat waktu itu, sampai terdengar kemakmurannya ke kerajaan banjar, lalu pada saat itu Raja memerintahkan Laskar untuk meminta Upeti kepada masyarakat "balai" yang mendiami "TARLIANG" mendengar kabar tersebut masyarakat berbondong-bondong menyimpan hartanya yang menurut cerita mulut ke mulut emas sepanjang sumpitan banyaknya, sumpit  senjata khas dayak, piring melawin sepanjang ukuran manusia dewasa tingginya, gong dan sebagainya harta benda disimpan di tempat tersembunyi bernama "Liang Bandu" yang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh masyarakat setempat keberadaannya.Pada saat itu Laskar akhirnya sampai ke "balai Tarliang" namun tidak memperoleh apapun, akhirnya mereka kembali pulang ke kerajaan Banjar.

Pada suatu waktu ada acara "aruh" yaitu pesta adat Dayak bersyukur atas hasil panennya yang melimpah, saat itu diramaikan dengan acara adat "Babansai" yakni menari yang diiringi musik Gendang, Sarunai, pada kala itu ada seorang wanita yang baru 3(tiga) hari melahirkan, saking mendengar indahnya suara Serunai yang dimainkan orang dari Sampanahan yang sekarang termasuk Kab.Banjar, akhirnya dia ikut menari dengan semangat, pada saat itu Datu ayah dari sidin Pangirak suaminya yang dikenal sangat berani pada saat itu marah, karena melihat istrinya menari tanpa ingat waktu, lalu memukul mulut pemain serunai tersebut sampai berdarah... akhirnya orang tersebut karena kalah lalu pulang ke daerah asalnya, karena sebuah dendam , lalu di taruhlah oleh orang tersebut yang bernama minyak "sampun" yakni minyak yang memiliki magis sangat kuat untuk membunuh setiap orang yang berada dikawasan yang ditaruh minyak tersebut, setelah di taruh minyak. 
 
Konon pada saat ditaruh minyak tersebut setiap sore menjelang malam di balai tersebut ada yang mati seketika menurut cerita hampir setengah orang yang ditinggal di balai tersebut mati, untuk itu kepala adat mengambil langkah musyawarah adat dan minta petunjuk ke nini batahara yakni kepercayaan orang dayak saat itu ada kekuatan dasyat diluar dirinya yang memberikan sebuah petunjuk, perlu diketahui kepercayaan yang dianut masyarakat dayak tersebut  adalah kaharingan hanya satu cara mengatasinya yaitu harus meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat baru untuk membangun balai, tapi ada sebagian masyarakat lain pergi membuat balai lainnya, seperti balai kacang parang, batang tarang dan sebagainya adapun tetua adat Datu Marimpin dan anak-anaknya'  yang bernama Sidin Butan yang dikenal Tumenggung Mardiah membangun Balai yang bernama " Palupuh " dan beliau Tumenggung Mardiah yang ikut dalam perjuangan kemerdekan mengalami dua kali dihukum jaman penjajahan belanda dan jaman penjajahan jepang beliau adalah kepala adat yang dekat dengan pemerintahan banjar pada saat itu, kepandaian beliau selaku ketua adat adalah pandai berdiplomasi dan sampai sampai ada orang belanda yang mau membawa ke neterland namun beliau menolak dengan alasan tidak bisa membaca, beliau selain kepala adat adalah pejuang, beliau memiliki 4 (empat) anak laki laki  bernama, sidin  Dumas, sidin Imin, sidin Ancir,  sidin Induk yang cikal bakal mendiami daerah bernama " pantai harapan".***

sumber ; http://sketsahss212.blogspot.com/2013/11/kisah-loksado.html

Rabu, 11 Desember 2013

KALAYANGAN DANDANG

Kalayangan dandang ni kalayangan yang ganal banar dan ditambah bagian khusus yang bisa mengaluarakan bunyi pas tarabang.
Urang wayahini banyak yang kada katuju dan mau haja kada tahu lawan kalayangan dandang, padahal  ini adalah salah satu warisan budaya dari urang tutuha kita. Kalayangan yang ganal lawan pulang bisa babunyi, karena bunyi nya inilah biasanya yang maulah urang katuju. Biasanya kada hagan baramian haja kalayangan dandang ini, biasanya ini dilombaakan, babaikan bunyi, balawasan tarabang dll. Kalo di Hulu Sungai Selatan, urang yang katuju lawan kalayangan dandang ini banyak di daerah kecamatan sungai raya dan kecamatan simpur, makanya rancak di situ tu diadakan lomba kalayangan dandang
————————————–
Layang-Layang Dandang merupakan layang-layang yang besar dan ditambah dengan bagian khusus yang bbisa mengeluarkan suara ketika terbang.
Orang sekarang banyak tidak suka dan bahkan mungkin tidak tahu dengan layang-layang dandang, padahal ini adalah salah satu
Dari Bambu yang dibuat lubang inilah yang dapat mengeluarkan bunyi seperti suara kumbang yang nyaring hingga bisa didengar lebih dari 1 kilometer..disebut juga dengan nama "kukumbangan"
Dari Bambu yang dibuat lubang inilah yang dapat mengeluarkan bunyi seperti suara kumbang yang nyaring hingga bisa didengar lebih dari 1 kilometer..disebut juga dengan nama "kukumbangan"
warisan budaya nenek moyang kita. Layang-layang yang besar dan bisa  bersuara karena suara nya inilah biasanya yang membuat orang suka. Biasanya bukan sekedar untuk hiburan, biasanya layang-layang dandang ini diperlombakan siapa yang paling baik suaranya, yang paling lama terbangnya dll. Kalau di Hulu Sungai Selatan, orang yang suka dengan layang-layang dandang ini banyak di daerah kecamatan sungai raya dan simpur, sehingga sering di daerah sana diadakan lomba layang-layang dandang.
Sebenarnya Kata dandang, diambil dari sebutan alat memasak nasi di daerah Kalimantan Selatan berupa sejenis panci. Zaman dulu, di beberapa daerah layang-layang dimainkan untuk mengusir burung di sawah. Layang-layang paling sederhana terbuat dari helai daun yang diberi kerangka dari bambu dan diikat dengan serat rotan.  Untuk Festival Di selenggarakan pada setiap tahun dan pada Musim Kemarau atau lebih tepatnya sehabis panen padi.
Untuk Lebar dandang 4m dan tinggi 12m termasuk buntut dandang, menaikan dandang harus Lebih dari 1 oarang minimal 5 orang.

sumber ::  http://avivsyuhada.wordpress.com/2011/12/27/kalayangan-dandang/

KANDANGAN CING AE !!!!!!!

Istilah “Kandangan Cing-ai” sendiri agaknya sulit dilacak dari mana, oleh siapa dan sejak kapan digunakan. Slogan ini barangkali hanya sebagai ungkapan gagah-gagahan untuk manggaratap orang lain di masa lalu. Kebiasaan itu diwariskan secara oral dari generasi ke generasi dalam masyarakat urang Kandangan. Namun ungkapan tersebut belakangan seperti tak punya “taring” lagi di kalangan masyarakat Kandangan sendiri. Bahkan jika ada orang yang melontarkan ungkapan tersebut justru terdengar mambari supan karena cenderung menampilkan profil urang Kandangan yang primitif, udik dan kampungan. Mereka yang masih bangga menyuarakan ungkapan “Kandangan Cing-ai” harus mereduksi kembali kadar intelektualitas dan spritualitasnya. Mambari supan tahulah, Dangsanak!

Upaya dalam kaitannya untuk menghapuskan image “seram” dan “primitif” tentang Kandangan, lebih khusus mengenai ungkapan “Kandangan Cing-ai” itu sudah lama dan banyak dilakukan oleh berbagai pihak dari waktu ke waktu, baik dari kalangan pemuka agama, tokoh masyarakat, unsur pemuda, hingga oleh pihak pemerintah daerah. Upaya tersebut juga dibuktikan dengan tampilnya putra-putra terbaik Kandangan di tingkat daerah maupun nasional sebagai birokrat, politikus, akademisi, agamawan, budayawan, seniman dan olahragawan. Di Kandangan, juga teduh dengan suasana keberagamaan dan kebersamaan, meskipun dalam beberapa hal masih dalam ranah simbolisme dan formalisme. Di Kandangan pula, melalui observasi pribadi dan riset tidak resmi yang penulis lakukan, gadis-gadisnya terkenal cantik-cantik dan ranum-ranum, senantiasa menguarkan semerbak masa muda remaja masa kini. Akayaaah…

Trauma intimidasi sebagai daerah eks jajahan di masa lampau, menyebabkan kultur urang Kandangan menjadi korban pembekuan selama beberapa dasawarsa di bumi Antaludin itu. Tetapi sekarang, dengan berkembangnya budaya-budaya baru dalam dunia pergaulan, pendidikan, ekonomi dan informasi, kita harapkan pembekuan itu segera “mencair” ke arah yang positif. Karena kita semua tahu, bahwa budaya kultural urang Kandangan yang berusia ratusan tahun itu sebenarnya tak tersangkut, bahkan kontradiktif, dengan lembaran hitam dalam sejarah kita sebagai manusia.

Dalam konteks kekinian, sikap dan jiwa “pemberontak” urang Kandangan terhadap ekspansi kaum penjajah di masa lalu kepada masyarakat di daerah ini mesti tetap kita lestarikan dan budayakan. Sekarang kita mesti “angkat senjata” terhadap segala bentuk tindak kesewenang-wenangan yang dilakukan setiap “penjajah” yang mencoba memperkosa hak-hak rakyat dhu’afa di daerah ini, termasuk para pemangku birokrat daerah ini yang doyan menggerogoti dan mambantas duit rakyat dengan semena-mena. Pun bagi para politikus busuk yang saat ini lagi obral janji demi merampas hak-hak dan menginjak-injak harkat serta harga diri kita sebagai urang Kandangan yang punya martabat. Kandangan Cing-ai!

Apalagi dalam suasana demokratisasi saat ini, kita mesti memegang kukuh semangat kebersamaan sebagai warga urang Kandangan yang bermartabat itu. Tetapi, seperti kata budayawan Burhanuddin Seobely, citra kebersamaan tidaklah sesempit unggut-unggut tarus nang kaya bilatuk manabuk sarang. Kebersamaan tidaklah menafikan kritik. Kebersamaan tidaklah mengharamkan teguran. Kebersamaan tidaklah meminggirkan pendapat orang lain atau merasa ampun saurang haja nang pambujurnya, apalagi rasnang nang kaya mandur Ulanda. Kebersamaan adalah juga keterbukaan dalam memberi dan menerima. Ketulusan tagur-managur atawa ingat-maingati kayuhan jukung ampah manumbuk ambul.

“Kandangan Cing-ai!” Mendengar kata itu memang tidak selamanya tubuh kita merasa panas. Tetapi seperti ada yang tiba-tiba terbakar! []

Aliman Syahrani
urang Kandangan

sumber ::  http://kucapa.blogspot.com/2010/06/kandangan-cing-ai.html